Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu...
Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang putri kepada seorang Ayah.
Ayah...menjadi ayah itu indah dan mulia. Besarnya rasa sayangku dulu belum hilang hingga saat ini. Aku masih ingat saat engkau genggam erat tangan mungilku setiap hari minggu saat kita ke taman bermain.
Balon yang selalu ayah belikan untukku, balon memang bukan mainan favoritku tapi selalu aku tunggu setiap akhir pekan, karena bukan apa yang diberi tetapi siapa yang memberi.."balon pemberian Ayahku". Masih bisa kuingat warnanya, sama kuatnya seperti ingatanku saat kata-kata dan perlakuan kasar itu pertama kali kudengar. Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu, tak pernah engkau hindarkan aku dari kerikil tajam, engkau tak ada disaat aku butuh dekapan sayang seorang ayah. Aku cuma ingin menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan cinta seorang putri.Tapi ayah tak pernah ada disana untukku. Saat aku letih berjalan, terus berusaha kukuatkan diri karena aku memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Ayah. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk diri dan menghapus air mataku, ketika aku hampir putus asa.
Ayah..kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Ayah. karena anganku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar